Latest Entries »

gambarnya

Ya, kita membuka kotak kenangan itu sama-sama tadi malam. Hanya sebentar. Beberapa detik saja, memastikan masih utuhkah kenangan yang sudah kita balut rapih-rapih di sana. Ya, masih utuh! Kita melempar senyum ‘lucu’, teringat beberapa kenangan dulu. Hei, kau ingat seminggu kau butuhkan untuk menghapal chord gitar lagu yang sering aku nyanyikan pelan-pelan sambil melamun–biasanya? Lalu kau nyanyikan itu untukku dengan nada yang menari-nari rasa jazzy dari gitarmu. Masih ada gitar yang itu? Masih ingat chord gitarnya?
Dari kotak kenangan terdengar nada itu melompat riang, bernyanyi lembut menyusup pelan ke telinga.
Tapi sebentar, lalu kita tersentak! Dan cepat-cepat menutup kotak kenangannya. Kita saling melempar senyum ‘lucu’ lagi.
“Cepat tutup kotak kenangannya!” kataku setengah berteriak. View full article »

Beberapa potong foto merengek ingin diceritakan dan beberapa kata-kata yang berantakan tetap memaksa untuk menceritakan tentang, aku, mereka, dan kita. :)

foto 1–simpan senyuman kita di sini

Setelah bertemu mereka aku merasa terlalu cepat untuk mengeluh dan protes pada takdir. Mendikte keadaan, mengingat yang buruk-buruk saja–yang pernah dilalui bersama waktu–lalu pura-pura tak ingat dengan hal-hal menyenangkan yang pernah waktu suguhkan.

  Foto 2—tiup-tiup terompet View full article »

Hei, Hujan, berhenti dulu di sini!

Aku mau menggadaikan harapan dan beberapa lembar kenangan.

Gadaikan dengan pelangi ya?

Tapi tidak kujual hanya kugadaikan, mungkin nanti akan kuambil lagi harapan dan kenangan ini dan kukembalikan pelangimu.

Boleh ya?

*19 jam yang lalu

gambarnya

“Menunggu Apa?”

“Menunggu apa?”
“Menunggu hujan. sudah dua hari tidak turun hujan.”
“Mengapa menunggu hujan?”
“Karena katanya, kalau hujan dia jadi rindu.”
“Ah tenang saja, dia tetap rindu meski hujan tidak turun hari ini.”

itaita

Jakarta, 20 Januari 2012

gambarnya


Kamu ucapkan cinta tepat saat langit dan awan menderaskan hujan sederas-derasnya di musim itu. Saat ini hujan mulai mereda, tak sesering dan sederas musim itu. Tak apa, aku hanya berharap cintamu tak mereda bersama musim hujan yang semakin reda. Rasamu padaku takkan ikut mengering bersama hujan yang mulai mengering. Aku tak berapa butuh hujan, aku butuh kamu, cintamu, ya, itu. Kamu tahu kan? Cintai aku sepanjang musim, musim apa pun, meski hujan tak turun hari ini. :)

19 Januari 2012;

2.57 pm;

gambarnya

Meski tak seindah yang kau mau- Tak sesempurna cinta yang semestinya-
Namun aku mencintaimu- Sungguh mencintaimu-
Begitu erat begitu lekat- Perasaanku kepadamu-
Tak bisa ku hentikan- Tak mampu ku tepiskan

–Tak Seindah Cinta Yang Semestinya – Naff


Tak ada sekeping kata untuk membuat janji padamu, untuk memenuhi konsep cintamu yang tampaknya terlalu sempurna untuk kujejaki tiap angkanya. Aku bukan peri matahari, aku bukan malaikat dari bintang, aku bukan putri yang bersinggasana di awan. Bukan. Hanya mungkin sekuncup bunga mungil yang siap-siap merekah, untukmu. Tunggu aku berbunga merah muda, dan itu untukmu, dan semoga menjadi bunga sepanjang musim, untukmu.
Meski tak sehangat mawar yang merekah merah tua, tak sewangi melati saat pagi, tak seanggun anggrek bulan, tak sesempurna bunga tercantik di musim semi.

Aku hanya ingin bersamamu, bahagia, dan selamanya, sudah itu saja…

19 Januari 2012;

1.54 pm;

gambarnya

Salju (?)

Katakan, bagaimana aku bisa jatuh cinta pada salju!

Padahal di depan rumahku belum pernah turun saju satu titik pun. Aku belum pernah benar-benar tahu warna salju. Putih, kata mereka. Hanya sesekali membayangkan di layar-layar buram, dari kata-kata yang disusun penyair. Salju, mereka menyebutnya. aku tidak pernah tahu apa bentuknya, warnanya, baunya, bagaimana. Jadi bagaimana aku bisa jatuh cinta? Katanya algoritma cinta adalah ‘dari mata turun ke hati’, lalu apa mencintai salju ini tidak ber-algoritma?
Hei, bagaimana kalau suaranya bisa membunuhku, mati menggigil saat salju menyentuhku pertama kali dalam dinginnya? Ujung kukuku sudah hampir beku, baru saat membayangkan kami bertatapan. Salju.

itaita

Cideng Barat, 17 Januari 2012;

11.48;

gambarnya

Menunggu sesuatu yang belum berjadwal. Mencintai yang belum tahu bentuknya. Mencari yang belum pasti ada. Merindu untuk sesuatu yang belum tentu pun punya rindu sama. Menyelipkan perasaan untuk sesuatu yang belum berarah. Ada yang lebih tidak jelas dari malam ini? Katanya malam sedang kesepian, apa lagi aku. Lalu dia sedang bagaimana?

itaita
13 Januari 2012, malam

gambarnya

Biar Hangat

17-12-2011 , saat itu katamu,

“di sini hujan, cuma ada dingin, dan aku memikirkanmu.”

15-01-2012, hari ini aku tuliskan untukmu (diam-diam)

yang sedang sedang memikirkanmu…

 

Bahkan langit belum menyalakan lampu kamarnya. Malam masih belum mau tidur, katanya. Pagi masih mimpi tentang gerimis sepanjang hari. Selimut pun kedinginan dini ini. Hanya jarum jam dinding yang tampak biasa saja, tak terpengaruh cuaca dan warna langit. Ini malam atau pagi? Angkanya tetap sampai dua belas, berputar-putar. Lalu. aku, memikirkanmu saja yah, biar hangat. Meski tak tahu kau mengizinkannya atau tidak. Malam ini saja. Angin mengaburkan kata-kata. Mungkin kita butuh kunang-kunang. Tapi tidak ada kunang-kunang di sini. Adanya lampu jalanan pun yang sudah hampir mengantuk.
Jadi… Selimut pun kedinginan, dan aku memikirkanmu saja, biar hangat.
Mungkin, sudah hampir pagi.

Hm… sudah berapa hari ini pagi terlambat datang.

3:46

gambarnya

Sapaan pertama saat bungur meng-ungu di sepanjang jalan sana. Lalu bertukar cerita selama bunga-bunga bungur mulai berguguran sebagian. Dan kau pergi saat sisa bunga berubah menjadi biji coklat tua. Tanpa ucapkan selamat tinggal. Ya, memang tidak usah ucapkan itu, mungkin di musim bunga bungur berikutnya kau mau datang lagi. Membawa sebungkus cerita, membaginya denganku, membacakan kenangan, saling membungkus sepi, berdua.

14 Januari 2012.
10.11

 

gambarnya

Blog pada WordPress.com. | Theme: Motion by volcanic.
[ Kembali ke atas ]
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.