Ya, kita membuka kotak kenangan itu sama-sama tadi malam. Hanya sebentar. Beberapa detik saja, memastikan masih utuhkah kenangan yang sudah kita balut rapih-rapih di sana. Ya, masih utuh! Kita melempar senyum ‘lucu’, teringat beberapa kenangan dulu. Hei, kau ingat seminggu kau butuhkan untuk menghapal chord gitar lagu yang sering aku nyanyikan pelan-pelan sambil melamun–biasanya? Lalu kau nyanyikan itu untukku dengan nada yang menari-nari rasa jazzy dari gitarmu. Masih ada gitar yang itu? Masih ingat chord gitarnya?
Dari kotak kenangan terdengar nada itu melompat riang, bernyanyi lembut menyusup pelan ke telinga.
Tapi sebentar, lalu kita tersentak! Dan cepat-cepat menutup kotak kenangannya. Kita saling melempar senyum ‘lucu’ lagi.
“Cepat tutup kotak kenangannya!” kataku setengah berteriak. View full article »
Latest Entries »
Beberapa potong foto merengek ingin diceritakan dan beberapa kata-kata yang berantakan tetap memaksa untuk menceritakan tentang, aku, mereka, dan kita.
foto 1–simpan senyuman kita di sini
Setelah bertemu mereka aku merasa terlalu cepat untuk mengeluh dan protes pada takdir. Mendikte keadaan, mengingat yang buruk-buruk saja–yang pernah dilalui bersama waktu–lalu pura-pura tak ingat dengan hal-hal menyenangkan yang pernah waktu suguhkan.
Foto 2—tiup-tiup terompet View full article »

Kamu ucapkan cinta tepat saat langit dan awan menderaskan hujan sederas-derasnya di musim itu. Saat ini hujan mulai mereda, tak sesering dan sederas musim itu. Tak apa, aku hanya berharap cintamu tak mereda bersama musim hujan yang semakin reda. Rasamu padaku takkan ikut mengering bersama hujan yang mulai mengering. Aku tak berapa butuh hujan, aku butuh kamu, cintamu, ya, itu. Kamu tahu kan? Cintai aku sepanjang musim, musim apa pun, meski hujan tak turun hari ini.
19 Januari 2012;
2.57 pm;
Meski tak seindah yang kau mau- Tak sesempurna cinta yang semestinya-
Namun aku mencintaimu- Sungguh mencintaimu-
Begitu erat begitu lekat- Perasaanku kepadamu-
Tak bisa ku hentikan- Tak mampu ku tepiskan
–Tak Seindah Cinta Yang Semestinya – Naff

Tak ada sekeping kata untuk membuat janji padamu, untuk memenuhi konsep cintamu yang tampaknya terlalu sempurna untuk kujejaki tiap angkanya. Aku bukan peri matahari, aku bukan malaikat dari bintang, aku bukan putri yang bersinggasana di awan. Bukan. Hanya mungkin sekuncup bunga mungil yang siap-siap merekah, untukmu. Tunggu aku berbunga merah muda, dan itu untukmu, dan semoga menjadi bunga sepanjang musim, untukmu.
Meski tak sehangat mawar yang merekah merah tua, tak sewangi melati saat pagi, tak seanggun anggrek bulan, tak sesempurna bunga tercantik di musim semi.
Aku hanya ingin bersamamu, bahagia, dan selamanya, sudah itu saja…
19 Januari 2012;
1.54 pm;
Katakan, bagaimana aku bisa jatuh cinta pada salju!
Padahal di depan rumahku belum pernah turun saju satu titik pun. Aku belum pernah benar-benar tahu warna salju. Putih, kata mereka. Hanya sesekali membayangkan di layar-layar buram, dari kata-kata yang disusun penyair. Salju, mereka menyebutnya. aku tidak pernah tahu apa bentuknya, warnanya, baunya, bagaimana. Jadi bagaimana aku bisa jatuh cinta? Katanya algoritma cinta adalah ‘dari mata turun ke hati’, lalu apa mencintai salju ini tidak ber-algoritma?
Hei, bagaimana kalau suaranya bisa membunuhku, mati menggigil saat salju menyentuhku pertama kali dalam dinginnya? Ujung kukuku sudah hampir beku, baru saat membayangkan kami bertatapan. Salju.
itaita
Cideng Barat, 17 Januari 2012;
11.48;
“di sini hujan, cuma ada dingin, dan aku memikirkanmu.”
15-01-2012, hari ini aku tuliskan untukmu (diam-diam)
yang sedang sedang memikirkanmu…
Bahkan langit belum menyalakan lampu kamarnya. Malam masih belum mau tidur, katanya. Pagi masih mimpi tentang gerimis sepanjang hari. Selimut pun kedinginan dini ini. Hanya jarum jam dinding yang tampak biasa saja, tak terpengaruh cuaca dan warna langit. Ini malam atau pagi? Angkanya tetap sampai dua belas, berputar-putar. Lalu. aku, memikirkanmu saja yah, biar hangat. Meski tak tahu kau mengizinkannya atau tidak. Malam ini saja. Angin mengaburkan kata-kata. Mungkin kita butuh kunang-kunang. Tapi tidak ada kunang-kunang di sini. Adanya lampu jalanan pun yang sudah hampir mengantuk.
Jadi… Selimut pun kedinginan, dan aku memikirkanmu saja, biar hangat.
Mungkin, sudah hampir pagi.
Hm… sudah berapa hari ini pagi terlambat datang.
3:46
Sapaan pertama saat bungur meng-ungu di sepanjang jalan sana. Lalu bertukar cerita selama bunga-bunga bungur mulai berguguran sebagian. Dan kau pergi saat sisa bunga berubah menjadi biji coklat tua. Tanpa ucapkan selamat tinggal. Ya, memang tidak usah ucapkan itu, mungkin di musim bunga bungur berikutnya kau mau datang lagi. Membawa sebungkus cerita, membaginya denganku, membacakan kenangan, saling membungkus sepi, berdua.
14 Januari 2012.
10.11








