Arsip

Tahukah Kau, Aku Mencintaimu?

Tahukah Kau, Aku Mencintaimu?

Oleh: Juwita Purnamasari

[Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring]


Ada cowok di dalam kamarnya.

Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

Pound Hall, 913.

Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.

“Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)

Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?

Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

Cath melakukannya.

“Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

“Apa kau menderita gangguan jiwa?”

“Apa?”

“Mengapa kau ada di kamarku dan bertanya macam-macam? Aku tidak suka cowok yang banyak bicara!” Baca lebih lanjut

Iklan

Gadis di BalikTelepon (Cerpen)

Gadis di BalikTelepon

Ilustrasi : Astral karya Loui Jover

Ilustrasi : Astral karya Loui Jover

“Hallo?”

“Aku mencintaimu.”

Lalu sambungan telepon terputus.

Laki-laki di seberang sana masih memandangi layar ponselnya yang menggelap, beberapa detik ia mengingat-ingat, mencoba menarik kembali rekaman suara dalam jeda waktu satu setengah detik barusan. Suara siapakah? Seorang gadis sudah pasti. Tapi siapa? Baca lebih lanjut

Memang Kalau Kemarau Nggak Boleh Gerimis ?

Ketemu flashdisk lama di selipan tas, ada folder namanya ‘Buat Lomba’ dan nemu cerpen ini, ditulis sekitar 2 tahun lalu–waktu saya masih aktif jadi banci lomba 😛 . Pernah diikuti lomba tapi gak menang, daripada bulukan mending ku-update di blog. 😀

Memang Kalau Kemarau Nggak Boleh Gerimis ?

– Juwita Purnamasari – 

3690146f566210362ab1ce493f265272

ilustrasi

“Kak Erika, lihat gerimis!!” Anak kecil berpiyama warna biru muda menyibak tirai jendela lalu loncat-loncat kegirangan.

“Gerimis? Ini kan kemarau, Anna.”

“Memang kalau kemarau nggak boleh gerimis?”

“Sudah, minum dulu susunya, cuci kaki, lalu tidur.” Baca lebih lanjut

Gadis Kecil dan Cangkir Kalengnya

0f7d421a768b8de84bb518562b02f81c

Gadis kecil itu menengadah ke langit, langit yang dia pikir baru saja seorang malaikat baik hati menumpahkan susu cokelat di sana. Langit rasa susu cokelat. Gadis kecil itu buru-buru mengambil cangkir kaleng dari dapur, cangkir kaleng yang umurnya lebih tua daripada umurnya. Dia menaikan cangkirnya tinggi-tinggi, berharap awan baik hati mau menguap sejenak dan memberinya sedikit saja susu cokelat yang sempat ditumpahkan malaikat di langit, ke dalam cangkirnya. Baca lebih lanjut

Cheesecake, Karena Cinta Selalu Mau Mendengarkan (cerpen)

cheesecake

Hanya cerpen sederhana setelah lama sekali tidak nulis cerpen. Semoga ‘cheesecake’-nya enak. 🙂

Di halte depan kampus. Hujan masih belum mereda sedikit pun, taksi yang lewat tak ada yang mau berhenti saat aku melambai. Sudah hampir lima puluh menit, aku melirik jam tangan. Entah sudah beberapa kali wajah-wajah penanti di halte ini berubah, ada yang menunggu, jemputan datang, pergi datang lagi penanti yang lainnya, jemputan datang lagi dan pergi lagi. Sementara aku, masih menjadi penanti hujan reda yang terpaksa setia.

Aku mengambil handphone dari dalam tas, membuka daftar panggilan terakhir nomor tertera di sana tentu saja nomor dia. Aku hampir menekan tombol hijau. Dia pasti datang jika aku memintanya. Tapi itu gila, setelah apa yang kulakukan padanya dua minggu lalu. Ya, daftar panggilan terakhir darinya pun tertera tanggal 20 Juni, dua minggu lalu. Dan selama itu tidak ada yang meneleponku, jadi yang meneleponku hanya dia. Ah, ada satu lagi nomer panggilan masuk terakhir adalah kemarin, dan itu dari kakakku yang sekarang pasti masih di kantornya. Aku tidak mungkin memintanya menjemputku, atau akan ada ceramah panjang tentang ‘anak manja’ atau ‘anak manja yang malas menyetir sendiri’.

Sementara aku memandangi layar handphone tanpa melakukan apa pun, tiba-tiba benda mungil berwarna putih itu bergetar, sebuah nama muncul di sana.

Al.. Calling…

Mungkin setelah saat ini, aku harus percaya dengan telepati yang pernah nenek ceritakan, saat kau memikirkan seseorang orang itu pun sedang memikirkanmu. Baca lebih lanjut

Tulip Putih (Cerpen)


339318153144254043_2amMSDyX_c

Namaku Elly, rambutku warna perak sedikit ikal seperti gelombang daun rumput, gaunku terbuat dari sulaman kelopak tulip kering dan bola mataku warna kelabu. Mungkin kau tidak bisa melihatku, karena aku hanya seekor peri bunga, tubuhku lebih mungil dari seekor kupu-kupu paling kecil yang berputar di sekitar kelopak warna-warni di ladang tulip. Rumahku beratap daun-daun hijau muda. Baca lebih lanjut

Tiramisu

Tiramisu, Cintai Aku Saja!

Oleh : Juwita Purnamasari

tiramisu

Hampir sejam sudah aku menunggunya di sini, di bangku kayu warna caramel, sebuah pas bunga berdiri anggun dengan setangkai mawar kuncup warna merah muda terselip di sana. Sudah hampir sejam aku menunggunya di sini, dua cangkir coklat panas sudah kosong di depanku. Haruskah aku memesan satu cangkir cokelat panas lagi? Dan habis lagi, sebelum dia sampai di sini? Ah, laki-laki memang suka memuaikan waktu, iya kan? Aku menopang daguku dengan dua tangan. Melirik ke ujung dan ujung sana semuanya berpasangan. Aku? Masih saja menunggu. Pesan singkat yang kukirim lima belas menit lalu masih belum dapat balasan, handphone-ku masih membisu saja sejak tadi. Aku memejamkan mata sebentar, menghitung mundur dari lima sampai satu dan berharap saat mata terbuka nanti dia sudah berdiri di depanku. Lima, empat, tiga, dua, saaaaat— Baca lebih lanjut