Arsip

Catoptrophobia – Part III

Sebelumnya: klik Catoptrophobia – Part I

klik Catoptrophobia -Part II

Catoptrophobia – Part III

Blazer abu-abu membungkus tubuhku. Kupikir tak ada lagi yang bisa kukerjakan di rumah. Yang ada hanya perasaanku semakin kacau, dan Albian semakin betah menghuni bagian otakku yang semakin rusak.

“Non, betul mau berangkat ke kantor?”

Bi Ifah sambil merapihkan meja makan, menuangkan segelas lagi susu ke dalam gelasku yang sudah kosong. Wajahnya memantulkan rasa khawatir yang takkan pernah bisa kau perkirakan sebesar apa. Aku tahu, mungkin dia khawatir tiba-tiba aku berpikir untuk menabrakan mobilku ke patung Sudirman, atau duduk berjam-jam di bawah air mancur Bunderan HI, atau loncat dari puncak menara Saidah yang konon berhantu itu. Yah, banyak pintu gerbang untuk bunuh diri di Jakarta, percayalah! Tapi, tidak, aku tak sebodoh itu. Meski tentu aku pernah berpikir untuk bunuh diri, tapi pasti dengan cara yang lebih rasional. Tuhan menciptakan banyak laki-laki di dunia ini, bukan hanya Albian. Aku pasti akan jatuh cinta lagi, kan? Katakan ya, kumohon! Karena sebenarnya aku pun tidak terlalu yakin. Baca lebih lanjut

Catoptrophobia – Part II

Sebelumnya: klik Catoptrophobia – Part I

Catoptrophobia – Part II

 

Dengan susah payah akhirnya hari paling mengerikan itu terlewati. Aku membuka mata, ternyata aku tertidur di sofa ruang tengah semalaman. Di kakiku yang dibalut selimut, Bi Ifah tertidur, menyandarkan kepalanya di bibir sofa. Jam dinding masih menunjukan pukul lima pagi kurang dua belas menit. Dengan berusaha bergerak sehalus mungkin agar tidak membangunkan Bi Ifah namun ternyata aku gagal, saat aku baru menggerakan tangan Bi Ifah sudah tampak terlonjak kaget dan matanya cepat-cepat terbuka lebar. Baca lebih lanjut

Catoptrophobia – Part I

 

Hanya tulisan iseng-iseng yang belum tahu akan jadi apa, mungkin cerpen, cerbung, novel atau hanya berakhir sampai di sini, saya tidak tahu. Rencananya sih saya pengin posting secara rutin setiap part lanjutannya di note FB dan mungkin Blog, setiap hari Kamis (InsyaAllah kalau gak ada halangan dsb). Cuma semacam untuk memotivasi–dan memaksa–diri saya lebih rutin belajar menulis. Syukur-syukur kalau ada yang bersedia baca dan menunggu lanjutannya supaya saya makin semangat. Hhe..  

*Diposting juga di note fb: di sini

 

Catoptrophobia – Part I

 

Yang Tersayang Killa,

Maaf, kita tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita. Aku akan menikah dengan Lyva, kau mengenalnya, kan? Ya, teman masa sekolahku dulu. Ternyata aku memang mencintainya, masih mencintainya dan selalu mencintainya. Killa, kau pantas mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintaimu, dan maaf jika ternyata laki-laki itu bukanlah aku.

Percayalah aku pun menyesal dengan semua yang terjadi pada diriku, sejak awal bertemu denganmu tak ada sedikitpun niat untuk melakukan hal ini. Tapi aku pun tak bisa memaksa perasaanku, aku harus memilih Killa. Kuharap kau mengerti situasi ini. Lyva dan aku saling mencintai, sejak empat bulan lalu pertemuan kami kembali aku sudah menyadari perasaan ini dan mati-matian berusaha menyangkalnya karena sudah ada dirimu di sampingku, namun aku gagal…

 

Paru-paruku seperti baru saja ditabrak kontainer namun bukannya remuk malah berubah menjadi asap, dan semua asap beracunnya terhirup dalam sekali helaan napas! Aku sungguh tak sanggup melanjutkan membacanya hingga kalimat terakhir. Aku sungguh tak sanggup! Baca lebih lanjut