Tag Archive | sajak

Puisi Kita Sudah Mati Bahkan Sebelum Tiba di Larik Terakhir

large (5)

Gambar via weheartit.com

 

Kita hanya ditakdirkan bertemu di satu puisi
Puisi tentang bait-bait musim beku
Ditulis dengan melodi yang berfermentasi

Kisah kita sudah lusuh, kau tahu
Lalu mati
Aku yakin kau pun sudah sangat tahu

Tak perlu memaksa menulis satu puisi lagi
Tentang kau, aku, kita, apalagi tentang sendu

Puisi kita sudah mati bahkan sebelum tiba di larik terakhir.

–01062016| Ita

Iklan

Aku Mengurung Jiwaku di Dalam Penjara yang Lembab

Ophelia by Kevin Beilfuss

Ophelia by Kevin Beilfuss

Aku mengurung jiwaku di dalam penjara yang lembab
Di bawah kelopak matamu yang sering menangis
Bertahun-tahun aku di sana seperti Putri Tidur
Yang bermimpi tentang tenggara ke utara itu seperti sejengkal

Aku memenjarakan hatiku di dekat hatimu
Berharap suatu hari hatimu menemukanku

Aku yang memenjarakan namamu dalam rapalan mantra kontinyu
Hanya namamu, hanya namamu saja

Namun entah apa yang membuatmu tak kunjung mendengar
Namun entah apa yang membuatmu tak kunjung menemukanku

Hingga akhirnya aku lelah tertidur
Sebelum kecupanmu mendarat aku terpaksa terbangun

Hingga akhirnya aku lelah menunggu abadi di tenggara
Dan mulai merangkak ke utara

Satu, aku masih belum lelah memikirkanmu
Namun, kau tak perlu khawatir, suatu hari aku pasti berhenti memikirkanmu.

 

–26082014 | ita
ilustrasi : Ophelia by Kevin Beilfuss 

Senyuman-Nya di Suatu Malam

f0032cc6acf739f9f6c49ef784bbab3f

Senyuman-Nya di Suatu Malam

– Juwita Purnamasari –

 

Sadarkah kita tinggal tersisa sedikit lagi
Jejak waktu mulia ini
Tentu banyak yang terlanjur terabaikan
Berlarilah lebih cepat, Nona!
Semoga belum terlambat menemukan
Di mana senyuman-Nya di sembunyikan
Di suatu malam katanya
Saat malaikat memenuhi bumi lebih banyak
Dari jumlah batu-batu kerikil

Bagaimana jika beberapa hari tersisa ini
Adalah jatah terakhir kita
Untuk mengejar senyuman istimewa-Nya
Bagaimana jika waktu mulia ini
Berlalu tanpa sempat kita sentuh sama sekali
Atau hanya tersentuh seadanya

Bagaimana jika di ujung waktu
Kita hanya bisa menyesal.

 

Ramadhan 19 1435

 

Hujan Bulan Juni Sudah Tidak Setabah Dulu

JuniDi sini. Hujan bulan Juni sudah tidak setabah dulu, saat pak tua Penyair itu menceritakannya padamu. Ia sudah tak lagi rela merahasiakan rintiknya, ia menderas di setiap malam bulan Juni ini. Mungkinkah ia sudah lelah menjadi bijak? Apakah ia telah lelah menjadi arif? Kini yang ada hanya keterburu-buruan, jejak-jejak hujan yang memerah, ucapan-ucapan hujan yang rapuh. Percayalah, hujan bulan Juni sudah tidak setabah dulu, saat pak tua Penyair itu menceritakannya padamu, saat kau memintaku menyimpannya sebagai dongeng abadi.

Apakah kau akan memintaku membuang dongeng yang kemarin dan memintaku menyimpan dongeng yang baru? Atau kau akan membuat dongeng tentang bulan ketigabelas agar musim tak mampu mengacak-acak kisah di dalamnya? Bagaimana jika kau ajarkan saja aku tentang setia? Setia yang tak peduli pada nama-nama bulan, setia yang melintasi musim-musim.


–24062014 |Juni

*Ilustrasi: karya Emerico Toth

*Inspirasi: Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono 

Itulah Mengapa Kami Mudah Menangis

loui jover's art

Kami tidak sekokoh kayu-kayu eboni itu
Mungkin malah lebih rapuh dari awan-awan musim hujan
Jika kelopak matamu seperti perisai yang kokoh
Mungkin kelopak mata kami seluruhnya adalah benih air mata.

Itulah mengapa kami mudah menangis.

Bahkan kadang perempuan-perempuan bisa menangis
Sedangkan mereka sendiri tidak tahu
Apa yang sebenarnya sedang mereka tangisi.

Mereka tidak tahu.

Jika kau bertanya adakah yang lebih rapuh dari awan-awan di musim penghujan?
Tentu jawabannya adalah kami, perempuan-perempuan itu.

 

–18062014 |ita

Ilustrasi: Thorn Loui Jover

Bagaimana Lagi Supaya Kami Bisa Bertemu

e966f03d5435b6be285ac4f5c2027d4aDengarkah dirinya,
Suaraku memanggil suaranya

Lihatkah dirinya,
Mataku mencari matanya

Merasakah dirinya,
Namaku menyebut namanya

Tahukah dirinya,
Rinduku menginginkan rindunya

Tak apa-apakah jika,
Cintaku mendoakan cintanya

Bagaimana lagi supaya
Senyumku hidup di dalam senyumnya

Bagaimana lagi supaya
Kami
Bisa
Bertemu

 

–17042014 | ita

ilustrasi : Violets day – Loui Jover