Antara Surabaya Solo via Bus Kelas Ekonomi – Karena cinta bisa menyapamu di mana saja

Antara Surabaya Solo & Cenil yang ikutan eksis

Antara Surabaya Solo & Cenil yang ikutan eksis

Judul : Antara Surabaya Solo via Bus Kelas Ekonomi

Penulis : Netty Virgiantiniย 

Penerbit : NetNot – Indie

Kalau cinta pertama dirasakan saat masih di bangku sekolah menengah mungkin itu sudah terlalu biasa. Tapi, coba bayangin kalau ada cowok mapan, keren, yang banyak digilai perempuan, dan umurnya sudah hampir 40 tahun dia baru kenal yang namanya “jatuh cinta”??? Meski mungkin nggak dijelaskan ini cinta pertamanya atau bukan. Setidaknya bisa dibilang ini adalah pengalamannya jatuh cinta di usia hampir 40 tahun, setelah bertahun-tahun nggak percaya dan nggak peduli dengan perasaan bernama “cinta”.

Mas Bram *sok akrab manggil pake mas-mas segala* alias Bramantyo Nugroho adalah cowok yang menganggap perempuan nggak lebih dari teman kencan saja, makhluk bertubuh indah yang tak pernah ia pandang dengan perasaan “cinta”. Hingga ia bertemu seorang gadis di sebuah bus ekonomi. Kalau biasanya novel-novel romantis mengambil tempat-tempat elit untuk pertemuan dua tokoh utamanya. Hal ini kayaknya nggak berlaku buat Kak Netty Virgiantini, sang pencipta Mas Bram.

Bram yang karakternya adalah orang kaya sejak lahir, nggak pernah merasakan gimana njubel, bau, pengap, rasa roller coster-nya bus kelas ekonomi, pada suatu hari terpakasa harus merasakannya. Di tengah perjalanan dia hampir menyerah. Dengan keadaan yang sangat nelangsa, bajunya kena muntah bayi, perut lapar, nggak punya duit seperak pun, dompet kecopet, hape hilang, bus nyaris kecelakaan. Tapi di bus yang mirip neraka itu, dia bertemu seorang perempuan biasa saja bermata bulat yang berhasil membuatnya mulai bertanya “apakah cinta seperti ini?”

Jangan mengharapkan pertemuan romantis di taman bunga, pertemuan picisan dengan tabrakan di koridor sekolah, perkenalan nggak terduga di kedai kopi. Tidak! Kalau kamu sudah mengkhayalkan cerita-cerita yang dimulai dengan adegan semacam ini lebih baik membatalkan baca resensinya apalagi berniat baca bukunya. *Blogger ini lagi PMS jadi maklum kalau galak* Ini pertemuan yang penuh nelangsa, ketika si tokoh utama begitu menderita di sebuah bus ekonomi jurusan Surabaya – Solo. Cocok buat kamu yang suka melihat laki-laki tampak menderita (?)

Novel ini berasal dari 3 judul novelet yang dimuat di tabloid Nyata. (gambar : https://www.facebook.com/netty.virgiantini)

Novel ini berasal dari 3 judul novelet yang dimuat di tabloid Nyata. (gambar : https://www.facebook.com/netty.virgiantini)

Ada beberapa tokoh utama dalam novel ini. Bram, Neyna, Romi. Ya semacam cinta segitiga gitu. Atau mungkin segiempat karena ada Shasa juga. Tapi menurut saya setiap cinta pasti segitiga. Selalu ada minimal 3 tokoh atau lebih. Ada dua orang yang akhirnya bahagia dan akan selalu ada satu orang atau lebih yang terabaikan atau patah hati. Selalu. Dan dalam sebuah novel Penulis adalah “Takdir” yang kelak akan menentukan siapakah tokoh yang akhirnya “saling mencintai” atau “hanya mencintai”.

Mas Bram versi itaita, meski kok pas dipikir ulang wajahnya nggak pantes dipanggil "mas", Biarin aja yang penting cakep! :P

Mas Bram versi itaita, meski kok pas dipikir ulang wajahnya nggak pantes dipanggil “mas”, Biarin aja yang penting cakep!๐Ÿ˜› (gambar : http://www.privy.net)

Saat baca novel ini saya membayangkan Mas Bram adalah Kim Nam Gil (dalam film Bad Guy), badan tinggi tegap, ganteng, wajah orang kaya, badboy, berkumis tipis (meski di buku bagian ini nggak dijelaskan). Sedangkan Neyna… saya sendiri! Haha… Narsis? Nggak juga sih! Tapi memang kalau baca novel saya harus ikut mengambil bagian, jadi salah satu karakter biar makin menghayati. Memang awalnya saya merasa jadi Neyna tapi entah kenapa di akhir-akhir halaman menjelang ending saya merasa lebih mirip Shasa. Pemeran pendukung dalam novel ini, yang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, meski sudah bersama dengan orang yang ia cinta dalam waktu yang panjang. Tapi… cinta tetap tidak berpihak padanya. Hiks…

Dalam novel ini mungkin Kak Netty ingin mengajak kita berkenalan lebih dalam dengan satu nama selain cinta, yaitu setia. Setia bukan hanya selalu ada di samping orang yang cintai, namun juga menerima dengan ikhlas segala kelebihan dan terutama kekurangannya. Bukan mencoba mengubah tapi mendampinginya untuk selalu berusaha memperbaiki. Bukan meninggalkan tapi justu menggenggam dan memeluknya saat ia sedang goyah. Kak Netty juga pengin kasih tahu kalau cinta bisa datang di mana saja, oleh siapa saja dan kapan saja, bagiamana pun caranya kadang kita tidak bisa menduganya. Dan seseorang dalam hidup tidak hanya sekali dalam jatuh cinta, mungkin ia akan patah hati atau ada cinta yang meski saling mencintai untuk saat itu tapi akhirnya tidak bisa bersama seperti Neyna dan Romi. Tapi akhirnya ada takdir yang lain, yang menunggu, cinta yang lebih pantas, seperti ketika akhirnya Neyna menyerahkan hatinya pada Bram. Juga, ada saat di mana cinta tak bisa berpihak pada kita, seberapa keras pun kita memintanya, seperti kisah cinta Shasha di sini.

Quote manis dari Kak Netty di awal bab baru. :)

Quote manis dari Kak Netty di awal bab baru.๐Ÿ™‚

Kalau ibarat jalanan, novel ini adalah jalanan mendaki gunung. Nanjak-nanjak. Bayangin kalau naik mobil pribadi ke daerah puncak. Nanjak, turun, nikung. Apalagi kalau lihat pedagang makanan pinggir jalan yang kelihatan enak biasanya minggir dulu. Wah pokoknya ramai rasanya! Ada saat baca ini bikin gregetan. Ada saat menarik napas lega. Ada saat saya ngomel-ngomel sampai pengap-pengap karena ulah atau karakter tokoh-tokohnya. Ada saatnya saya pengin mengintrogasi Kak Netty, “Kak! Kok tega banget bikin takdir tokohnya jadi begini sih? Jawab Kak! Jawab!!” Ya, itulah kurang lebih yang saya rasakan saat baca novel ini. Cocok banget buat kamu yang suka kisah cinta yang serius, mendalam dan syarat makna, tapi tetap dengan bumbu humor dengan takaran yang pas dan nggak bikin eneg, khas Kak Netty. Nggak ada satu pun novel karya Kak Netty yang lupa dikasih bumbu humor. Pas saya tanya kenapa, dia pernah jawab, karena dia pengin ajak orang-orang di luar sana ketawa bareng.๐Ÿ™‚

Sedikit intermeso tentang kesan-kesan saya tentang penulis favorit saya ini.

Kenal Kak Netty itu pas masih SMA kalau nggak salah, saat-saat di mana beli buku adalah hal yang sangat berat. Dengan bekal sekolah pas-pasan, harus nabung berminggu-minggu buat beli satu buku. Biasanya curi-curi baca di toko buku, kalau ada buku yang sampulnya udah dibuka. Tapi sekarang malah kebalikan, saking udah bisa cari uang sendiri, beli buku melulu tapi banyak yang belum kebaca. Seperti kata pepatah, begitu banyak buku, begitu sedikit waktu. Kalau masa-masa sekolah begitu banyak buku, begitu sedikit duit.๐Ÿ˜›

PicsArt_1427607863758

Koleksi novel Kak Netty yang saya punya. Nah, kalau penasaran wajah penulisnya ada di cover novel The Kolor of My Life tuh! Manis yaa…๐Ÿ™‚

Buku pertama Kak Netty yang saya punya judulnya Ini Rahasia. Abis itu saya ketemu lagi buku Kak Netty yang judulnya Mama Comblang. Kebetulan waktu itu ada bazaar buku murah di dekat rumah, langsung aja saya beli pas lihat nama penulisnya. Nah, saat-saat kuliah saya makin jarang beli buku, keseringan mampir di perpustakaan atau toko buku, buat baca buku gratis, karena memang uang jajan semakin mepet. Di perpus saya baca lagi buku Kak Netty setelah sekian lama… judulnya Jodoh Terakhir. Awalnya saya baca buku itu tanpa lihat nama penulisnya, tapi pas sudah selesai baca baru sadar kalau ini penulis yang sama dengan yang nulis Mama Comblang dan Ini Rahasia. Mama Comblang salah satu novel favorit saya. Sayangnya, novel ini saya nggak punya cuma pernah numpang baca di perpustakaan.

Beberapa waktu berselang, mulai populer jejaring sosial FB, dari situ saya mulai add dan sok-sok kenalan dengan Kak Netty via facebook. Awalnya saya kira orangnya sulit diajak ngobrol dan pilih-pilih teman, seperti beberapa penulis terkenal yang saya add di FB. Kebanyakan sombong dan cuma ngobrol sama teman-teman dekatnya aja. Kak Netty beda! Orangnya super duper ramah dan… lucu. Semua komentar di postingan FB-nya dengan rajin, sabar dan tabah dijawab satu per satu. Bahkan cuma kasih jempol pun dia akan ngucapin terima kasih. Wah, makin cinta aja sama penulis yang satu ini. Nggak cuma suka karya-karyanya saya juga suka dengan pribadinya yang ramah, supel, dan nggemesin. Dari situ saya mulai kembali berburu novel Kak Netty yang lain. Udah ketinggalan banyak judul, tapi beberapa masih bisa didapat.

Satu lagi yang unik dari penulis ini adalah dia sukaaa banget kayaknya pakai nama tokoh perempuan dengan huruf awalan N. Bahkan kalau saya nggak salah ingat nama-nama kadang terderngar mirip-mirip. Neyna (Antara Surabaya Solo, Mama Comblang, Duo Mama), Nadhira (Kembar Kok Beda & Kembar Dzigot), Neyla (Makhluk Tuhan Paling Katrok), Neyra (The Kolor of My Life). Tapi karena itulah saya suka. Karena jadi semacam ciri khas dan gampang diingat.๐Ÿ™‚ Oh ya, selain ramah penulis yang satu ini juga sangat baik hati.

Suatu hari saya dapat kejutan manis, hadiah tiba-tiba. Perasaan nggak pesan buku, tapi dapat paket buku dari Kak Netty. Saya super deg-degan karena waktu itu abis belanja komik berseri yang lumayan mahal. Sempat mikir Kak Netty salah kirim paket, tapi kalau begitu kan saya tetap harus bayar. Ya walaupun saya suka novel-novelnya, sebenarnya itu nggak masalah kalau harus bayar. Tapi mungkin perlu ngutang dulu. Haha… Tapi ternyata setelah dikonfirmasi itu benar-benar hadiah buat saya dan GRATIS. Huaa.. senang banget! Nggak ikut lomba nggak apa tiba-tiba dapat buku gratis. Judulnya, Kolor Of My Live!

Sebenarnya udah lama pengin nulis review tentang novel-novel Kak Netty tapi selalu nggak jadi, biasanya sih sudah keburu malas habis selesai baca. Tapi sekarang memang lagi rajin bikin resensi film dan buku di blog. Nah, kayaknya belum afdhol kalau belum review salah satu buku penulis terfavorit saya ini. Dan kenapa saya pilih buku yang ini? Satu, karena buku ini adalah karya Kak Netty paling fresh yang baru saya baca. Alasan kedua, karena novel ini pastinya punya sejarah tersendiri buat Kak Netty (dan saya sebagai penggemar karya-karyanya). Novel ini adalah novel pertama yang diterbitkan oleh Kak Netty sendiri dengan label “NetNot”-nya. Sebetulnya novel Duo Mama, lanjutan dari novel Mama Comblang juga diterbitkan secara indie tapi belum pakai label “NetNot”. Label ini khusus untuk menerbitkan novel-novel Kak Netty secara mandiri. Keren banget!๐Ÿ˜€

20150329_122832 Uniknya Kak Netty itu, beberapa kali beli buku langsung darinya. Selain dapat tanda tangan gratis saya selalu dapat surat tulisan tangan. Nah, khusus buat novel Surabaya – Solo ini setelah saya lihat di wall FB-nya, ternyata bukan cuma saya aja yang dapat surat tulisan tangannya. Wah, rajin banget, dia tulis tangan semua surat buat pembeli sekaligus penggemarnya! Tanpa poto kopian, tulisan tangannya juga rapi. Keren! Kayaknya belum ada penulis yang “serajin” Kak Netty yang saya kenal sejauh ini.๐Ÿ˜›

Yang nggak kalah bikin senyum-senyum, di surat Kak Netty ini tertulis bukunya boleh saya bayar kalau sudah gajian. Alias boleh ngutang! Huehehe.. Saya juga kaget saat tahu bukunya tiba-tiba sudah dikirim padahal saya belum bayar. Ckckc… Baru kali ini nemu “penjual” sebaik ini. Rasa kepercayaannya itu lho, bikin saya terharu. Ya kan bisa saja kalau saya jahat dan nggak bayar akhirnya? Pokoknya, terima kasih banyaak Kak sudah menulis begitu banyak buku yang menghibur, sudah banyak meluangkan waktu ngobrol meski cuma lewat fb atau twitter, dan terima kasih banyak untuk ngutangin bukunya…๐Ÿ˜›

Semoga tambah sukses karier nulisnya dan tambah banyak rejekinya!๐Ÿ˜€ 20150329_123146 Berharap banget suatu saat bisa ketemu langsung Kak Netty.๐Ÿ™‚

— 29032015 | ita.

This entry was posted on 30 Maret 2015, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. 2 Komentar

2 thoughts on “Antara Surabaya Solo via Bus Kelas Ekonomi – Karena cinta bisa menyapamu di mana saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s