Gadis di BalikTelepon (Cerpen)

Gadis di BalikTelepon

Ilustrasi : Astral karya Loui Jover

Ilustrasi : Astral karya Loui Jover

“Hallo?”

“Aku mencintaimu.”

Lalu sambungan telepon terputus.

Laki-laki di seberang sana masih memandangi layar ponselnya yang menggelap, beberapa detik ia mengingat-ingat, mencoba menarik kembali rekaman suara dalam jeda waktu satu setengah detik barusan. Suara siapakah? Seorang gadis sudah pasti. Tapi siapa?

Setelah lama mengingat-ingat, ia menyerah, merasa gagal mengingatnya. Dan memilih melupakannya saja, mungkin hanya seorang gadis kurang kerjaan atau seseorang yang salah sambung. Ah, kasihan sekali kalau gadis itu tadi salah sambung. Pasti dia sudah mengerahkan segala keberaniannya untuk mengucapkan dua kata itu, pikirnya diam-diam.

Di seberang sana seorang gadis sedang sekarat. Ia hanya tidak mau menyimpan cintanya hingga mati. Dua belas tahun adalah waktu terlalu lama membawa satu nama yang itu-itu saja di dalam hatinya tanpa pernah bisa ia utarakan.

Hingga malam suara gadis itu terus terngiang di telinganya, beberapa kali laki-laki itu meraih ponselnya, memutar-mutarnya dengan gusar, berharap ada panggilan masuk lagi dari nomor yang sama dan dia bisa menanyakan, siapa gadis itu dan apa maksud ucapannya. Tiap memikirkan dan mengingat panggilan telepon yang amat singkat itu dadanya terasa terhimpit dua batu yang begitu besar, tengkuknya terasa dingin, suara itu seperti meresap di dinding-dinding telinganya, namun ia masih gagal menyusun ingatannya, mencari jawaban suara siapakah itu.

Paginya laki-laki itu memutuskan menekan tombol call pada nomor misterius kemarin. Jantungnya berdebar, lama sekali, cukup lama untuk menunggu sebuah suara setelah nada sambung yang konstan. Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya di sofa.

“Buat apa aku menghubunginya? Sudah pasti itu orang salah sambung.” Pikirnya kesal, karena teleponnya tak pendapat respon yang ia inginkan.

Ia melirik jam dinding di ruang tengah. Ia merapihkan dasinya yang tadi belum terikat, mengikat tali sepatu, mengambil tas dan kunci motornya.

Seberapa dahsyat kekuatan suara perempuan di balik sambungan telepon itu, tak pernah terpikirkan ternyata lebih dahsyat dari yang bisa ia bayangkan. Empat jam di kantor berlalu dengan tidak tenang, ia terus-terusan bolak-balik memandang jam tangan dan layar ponselnya, waktu terasa melambat, pikirannya dipenuhi rekaman suara gadis dari seberang telepon kemarin. Suaranya lemah, lembut, seperti kesakitan, namun ia berusaha mengucapkannya setenang mungkin, terasa bahwa ada helaan napas samar sebelum telepon tertutup. Siapa gadis itu? Ia kembali mencoba keras mengulang rekaman suara gadis itu di pikirannya puluhan bahkan ratusan kali, mengingat-ingat, mungkin suatu waktu lalu ia pernah mengenal si pemilik suara.

“Kamu tidak istirahat?” Tanya Ratih teman di sebelah kubikelnya yang sedang sibuk membuka sebungkus sop ayam hangat memindahkannya dari plastik ke mangkuk.

“Jam berapa?”

“Jam setengah satu. Dari tadi melamun terus.”

“Haha.. pusing, tanggal gajian masih lama.” Ia menggeser kursinya, “aku cari makan siang dulu.”

Melamun ternyata bisa menghabiskan waktu satu jam lebih tanpa terasa, barusan seingatnya terakhir kali memandang jam tangan masih pukul setengah dua belas siang, namun tiba-tiba saat Ratih teman di sebelah kubikelnya menyapa sudah pukul setengah satu siang.

Ia menuju warung makan khas Sunda di depan kantor, sudah cukup ramai, hampir semua meja terisi pelanggan, ada yang sedang menikmati makanannya ada yang masih menekuk wajah sambil memainkan ponsel menunggu pesanan makananya tiba.

Laki-laki itu menghela napas berat, seraya membalik tubuhnya untuk membatalkan niatnya makan siang di rumah makan tersebut dan coba mencari tempat makan yang lebih sepi, tiba-tiba ponselnya bergetar. Satu pesan masuk.

Dari: +622608655359

Kenapa tidak jadi masuk?

Keningnya mengernyit? Nomor itu, nomor yang kemarin, kan? Gadis misterius yang meneleponnya sambil menyatakan cinta tiba-tiba. Jantungnya kebas. Ia batal melangkah keluar rumah makan dan kembali membalikan badannya, mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan, menyisir satu per satu wajah wanita di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu. Namun terlalu banyak wajah perempuan yang tidak ia kenal sedang menunduk, menatap layar ponselnya dan mengabaikan teman di depan atau di sampingnya. Begitulah kebiasan baru akhir-akhir ini. Ponsel terasa lebih menarik untuk sebagian orang daripada makhluk hidup di sekitarnya.

Dari: +622608655359

Diam saja? Aku dibangku paling belakang. Satu-satunya yang sendirian.

Tanpa sadar seulas senyum tersusun diam-diam di wajah laki-laki itu, ia melangkah masuk ke dalam rumah makan. Entah hanya rasa penasaran atau apa sebenarnya yang menciptakan debaran aneh yang begitu tiba-tiba di dadanya. Ia menuju ke meja paling belakang. Ada seorang gadis duduk sambil menunduk dengan kemeja warna merah. Jantungnya berdebar lembut, berharap gadis itu berbaik hati mengangkat sedikit wajahnya, menatapnya, agar ia bisa memandangnya sebelum akhirnya menyapanya,untuk pertama kali.

Untuk: +622608655359

Kamu yang berkemeja merah? Saya rasa saya ada lima langkah di depanmu sekarang.

Gadis itu mengangkat wajahnya, manis, dengan lipstik merah muda tipis, setipis senyumannya. Ia menunjuk sebuah bangku kosong di depannya.

“Hallo.”Ucap laki-laki itu kikuk. Seolah lupa bagaimana cara memulai percakapan dengan seorang gadis yang pertama kali ia temui. Apakah perlu menggunakan basa-basi kuno semacam menayakan jam berapa sekarang, atau menanyakan sebuah alamat yang sebenarnya sedang tidak ia tuju?

“Hai, Algian. Kamu pasti tidak mengenalku, kan?”

“Mmm… aku masih coba mengingatnya.” Laki-laki itu menggeser kursinya lebih dekat ke arah meja yang mematasi mereka berdua.

“Tak perlu repot-repot dan pusing mengingatku, atau membuang waktumu, kuberitahu saja, namaku Yasmin. Tentu kamu tidak ingat, karena sebelumnya memang tak pernah tahu namaku. Namun aku sudah mengenalmu sejak lama, lama sekali.”

Tanpa canggung apalagi kikuk gadis itu bicara dengan lancar, diselingi dengan tawa-tawa renyah atau sesekali menyesap jus jambu di depannya.

Masih bingung menyusun satu saja kalimat untuk membalas ucapannya, karena sepertinya sejak tadi gadis itu sudah terlalu banyak bicara, bahkan ia sudah bicara lagi sebelum laki-laki itu menemukan kalimat untuk menimpali ucapannya.

“Kamu tidak pesan makanan? Hanya ingin menemaniku makan siang saja ya?” Lalu gadis itu tertawa, kali ini lebih renyah, seolah dua kalimatnya barusan sangat lucu untuknya.

“Haha… hampir lupa aku ke sini ingin makan siang.”

Ia melirik jam tangannya, waktu makan siang tinggal sepuluh menit lagi.

“Mungkin karena aku terlalu banyak bicara?”

“Ah, tidak, bukan begitu.”

“Kalau begitu pesanlah sesuatu.”

Laki-laki itu melambaikan tangannya ke arah pelayan, “Kamu tidak ingin tambah menu makanan lainnya?” Gadis itu menggeleng.

“Sambil menunggu menu makananku datang, boleh tanya sesuatu?”

“Silahkan.”

“Apakah kamu gadis yang kemarin menelepon.”

“Apakah itu tidak terlalu retoris?”

“Mhh.. ya, kurasa, jawabannya pasti ya.”

“Lalu mengapa ditanyakan lagi?”

“Baiklah, satu pertanyaan lagi.”
“Ya.”

“Bagaimana tadi kamu bisa tahu aku ada di depan pintu masuk rumah makan ini, lalu kamu bisa mengirimkan pesan singkat saat aku hendak pergi? Kurasa jarak dari sini ke pintu itu cukup jauh, untuk mengenali satu wajah apalagi mengetahui seseorang akan masuk atau tidak di balik lalu-lalang orang lain.”

“Karena aku sudah lama mengenalmu.”

Laki-laki itu hanya bisa menghela napas. Suara sendu gadis itu sepertinya lebih berbahaya dari red wine. Ia berusaha keras agar tidak kehilangan kesadarannya.

Dari: +622608655359

Bisakah kita bertemu lagi kapan-kapan?

Sebuah pesan singkat baru, pesan singkat yang sudah ia nantikan sejak terakhir kali ia mendengar suara gadis itu di depan rumah makan sebelum mereka benar-benar berpisah karena harus mengambil jalan yang berbeda. Ia baru saja sampai rumah, bahkan tali sepatunya belum selesai dibuka semua. Namun ia meninggalkan tali sepatunya dan buru-buru membalas pesan singkat dari gadis di balik telepon itu.

Untuk: +622608655359

Tentu saja bisa.

Setelah beberapa kali ia mengetik lalu menghapus lalu mengetik ulang pesan balasannya. Sebenarnya ia ingin mengirim pesan yang lebih panjang, semacam menanyakan sedang apa gadis itu sekarang, atau yang lainnya, namun ia buru-buru membatalkannya. Gadis itu pun tidak membalas apa-apa lagi, padahal tentu saja laki-laki itu berharap si gadis di balik telepon akan menanyakan tanggal dan tempat, namun ternyata tidak. Ia pun melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda, melepas tali sepatu.

Hari ke hari laki-laki itu merasa jauh lebih bahagia. Pertemuan demi pertemuan, yang disengaja mau pun tidak disengaja terjadi begitu saja. Kadang seperti takdir, gadis itu tiba-tiba muncul di dekatnya tanpa mereka membuat janji terlebih dahulu. Di kantor pos, di halte bus, di warung makan pecel lele pinggir jalan hingga di depan toilet umum sebuah mall, pernah menjadi lokasi sekaligus saksi bahwa cinta selalu membawa takdirnya sendiri untuk saling mendekat.

“Ini pertemuan kita yang keberapa ya setelah… mh…”

“Tigapuluh sembilan hari.”

“Ya, sudah sebulan lebih sejak pertama kau meneleponku itu. Kupikir kamu salah sambung.”

“Ah, ayolah Al, kamu sudah mengatakannya beberapa kali soal itu hari ini.”

“Soal apa?”

“Soal kamu yang berpikir aku salah sambung.”

“Hari ini kamu terlihat kurang semangat, apa kamu kurang sehat.”

“Tidak, aku hanya berpikir bagaimana jika ini adalah pertemuan kita yang terakhir.”

“Hm..” Tiba-tiba laki-laki itu merasa gelisah, mendengar suara sendu gadis di depannya yang entah bagaimana terdengar sedih. Ia memutar-mutar sedotan hitam di gelas lemon teanya.

“Tidak usah dipikirkan, aku hanya berandai-andai. Aku hanya takut tidak bisa bertemu lagi denganmu dan setelah itu….”

“Setelah itu?”

“Setelah itu mungkin kamu akan melupakanku lagi.”

Laki-laki itu terdiam beberapa saat.

Laki-laki itu berdehem sekali untuk menghilangkan kegugupannya, “Yasmin, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padamu.”

Gadis itu menatap dalam-dalam mata laki-laki di depannya. Ia tidak terkejut atau menampakan senyum yang manis atau menampakan ekspresi yang bahagia, wajahnya sendu, datar dan dingin.

“Bagaimana kamu bisa mencintaiku?”

“Entahlah,mungkin karena kita sering menghabiskan waktu bersama.” Laki-laki itu semakin gugup melihat wajah gadis di depannya tidak menunjukan ekspresi apa pun yang berarti. Dadanya berdebar kencang, bukankah dulu gadis ini yang pernah mengutarakan perasaannya via telepon dan dia pun bilang bahwa telepon itu bukan telepon salah sambung. Lalu apa yang salah? Apa yang salah?

“Hanya itu?”

“Karena kamu gadis yang baik, ramah dan bisa membuatku bahagia.”

“Itu klise. Tak ada lagikah yang lain?”

Laki-laki itu mengernyit, menebak-nebak jawaban apa yang diinginkan gadis di depannya.

“Kenangan? Kenangan tentang aku? Tidak adakah Al yang kamu ingat?”

“Aku tidak mengerti.”

“Ya, sudah lupakan saja. Aku juga mencintaimu.”

Setelah pernyataan cinta tentu harusnya ada kisah yang romantis, ada hubungan yang semakin berwarna-warni, namun ternyata.

“Mengapa nomornya tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Ke mana Yasmin?” Hari ini sudah puluhan kali laki-laki itu menelepon gadis yang tadi malam baru saja mendengar pernyataan cintanya.

“Apakah ada hal yang salah yang sudah aku ucapkan, hingga dia tersinggung, lalu menghilang. Astaga! Apa lagi ini? Padahal aku baru saja menyatakan perasaan cintaku padanya. Apa semua wanita seperti ini, membuat bingung laki-laki?”

Satu hari, tiga hari, tujuh hari, Yasmin seperti lenyap ditelan bumi. Saat itulah laki-laki itu baru sadar bahwa pertemuan pertamanya, jadwal-jadwal kencan mereka, semua berjalan lancar, namun sekali pun ia tak pernah bertanya di mana Yasmin bekerja atau di mana rumah Yasmin. Seandainya dia sempat bertanya mungkin sekarang ia bisa menemukannya di kantornya atau mendatangi rumahnya. Gadis itu benar-benar seperti segelas red wine yang memabukannya, jika sudah mengobrol dia akan lupa banyak hal, yang ia tahu ia hanya inginmendengar suara gadis itu saja.

Ini adalah hari Minggu jam sepuluh pagi, laki-laki itu masih belum mandi bahkan masih mengenakan kaos dan celana pendek butut ketika ada yang mengetuk pintunya. Yasmin kah? Namun ia buru-buru menepis pikirannya. Tidak mungkin, Yasmin tak tahu alamat rumahnya. Namun bisa saja kan, bukannya gadis itu seperti sesuatu yang ajaib, ia bisa mengetahui nomor teleponnya bahkan seperti bisa muncul di mana saja.

Saat pintu terbuka, “Jhon.” Suaranya lesu dan tentu saja kecewa.

“Ada surat nyasar ke rumahku, aku lihat amplopnya ada namamu. Baru sampai tadi pagi dan belum sempat aku buka.”

“Terima kasih ya.” Malas-malas ia membawa surat itu ke dalam rumah.

Dulu saat ia masih duduk di bangku sekolah hingga kuliah memang Algian pernah tinggal di rumah sebelah, rumah Jhon dulu dikontrakan, dia tinggal bersama ayahnya yang sekarang sudah meninggal. Setelah bekerja dan punya penghasilan yang lumayan dia membeli rumah kecil tepat di sebelah rumah kontrakannya itu.

Matanya terbuka lebar saat membaca nama pengirimnya. Yasmin.

Saat kau terima surat ini pasti surat ini umurnya sudah lama sekali. Harusnya aku kirimkan sejak dulu namun aku tidak punya keberanian. Akhirnya surat ini harus menunggu lama hingga hari ini baru bisa dikirimkan. Dan saat kau menerima surat ini pun mungkin sudah sangat terlambat sekali…

Semakin ia membaca isi surat itu semakin ia merasa sakit kepala karena bingung. Di akhir surat itu ada sebuah alamat dan semacam petunjuk. Tidak ada pilihan lain ia pun berencana segera mendatangi alamat yang ditinggalkan Yasmin. Tujuh hari terlalu lama untuk seseorang yang baru saja jatuh cinta untuk tidak mendengar kabar apapun dari kekasihnya.

Setelah beberapa kali nyasar akhirnya ia bisa menemukan rumah yang dituju, ia mengetuk pintunya dan keluarlah seorang wanita paruh baya yang punya senyum mirip sekali dengan senyum Yasmin. Setelah memperkenalkan diri secara singkat laki-laki itu pun dipersilahkan duduk, di bangku rotan di teras rumah bergaya betawi kuno itu.
“Nak Algian ya? Ibu sudah dengar dari Yasmin. Surat itu pun ibu yang mengirimkan. Itu permintaan terakhirnya.”

“Permintaan terakhir?”

“Ya,sekitar empat puluh tujuh hari yang lalu, Yasmin meninggal karena kecelakaan. Sempat dirawat di rumah sakit beberapa jam, sempat siuman juga, namun namanya juga takdir…” Mata ibu itu tampak sembab.

Nyaris saja jantung Algian berhenti seketika, telapak tangannya terasa beku, matanya nanar, pikirannya terbang entah kemana. Meninggal.

“Meninggal? Namun…” ucapannya tergantung, agak tidak masuk akal jika diabilang selama kurang lebih empat puluh hari yang lalu mereka masih intens bertemu. Tidak mungkin. Ini aneh dan mustahil.

“Kalau ponsel Yasmin, apakah ibu juga yang menyimpan?”

“Oh, ponsel itu ada di kamarnya. Apa perlu diambilkan.”

“Jika tidak merepotkan.”

“Tidak, tidak, ayo masuk saja. Dulu waktu masih sekolah bahkan hingga sudah dewasa ini dia sering sekali cerita tentang kamu, Nak. Ah, dia pasti senang kalau sekarang tahu kamu mampir ke rumahnya.”

Algian hanya bisa tersenyum tertahan. Saat sampai di depan sebuah pintu kayu, tangannya gemetar saat ibu Yasmin mengambil sebuah kunci dari sakunya dan memberikannya pada Algian.

“Saya yang buka?”

“Silahkan.”

Tangannya gemetar hebat saat kamar itu terbuka, kamar yang wangi kayu manis, rapih dengan furnitur dan sprei berwarna biru muda.

“Nah, ini meja Yasmin, di sini biasanya dia duduk lama menulis buku harian katanya. Oh ya, ini handphonenya.” Ibu Yasmin mengambil handphone yang tergeletak di meja, di sebelah buku harian Yasmin. Ternyata handphone itu dalam keadaan mati.

“Apakah selama ini tidak ada yang memakai handphone Yasmin, Bu?”

“Tentu tidak ada? Kamar ini terkunci sejak Yasmin meninggal, dan kami sekeluarga tidak ada yang mengutak-atik benda-benda miliknya, ingin kami biarkan saja begini, untuk kenang-kenangan.”

Laki-laki itu merasakan lututnya lemas, bukan karena takut, namun karena dia sendiri merasa berada dalam kubangan teka-teki yang ia sendiri tidak mengerti. Ia bingung. Siapa Yasmin sebenarnya. Akhirnya ia meminta membawa buku harian itu pulang bersamanya. Mungkin di sana ada jawabannya.

Di rumah ia membaca buku harian itu dengan teliti, lembar per lembar ada dua buku harian dengan ukuran sangat tebal, mulai dari Yasmin di sekolah menengah pertama hingga saat-saat terakhir hidupnya. Ada beberapa selipan foto dengan warna yang sudah usang diselipkan di beberapa halaman buku hariannya. Ada seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda yang sepertinya selalu berdiri di samping Algian saat berfoto. Foto kelas waktu di SMP dan SMA, foto lomba lari marathon sekolah, foto perpisaan masa SMA, dan banyak selipan foto lainnya, namun tak ada satu pun foto Yasmin dan Algian yang hanya berdua di sana.

Berhari-hari ia habiskan untuk membaca dua buku harian Yasmin yang tebal-tebal. Buku harian yang menceritakan kisah hidupnya terutama kisah cinta Yasmin yang diam-diam selama di sekolah hingga dia dewasa. Hanya ada satu nama, satu nama laki-laki yang selalu ia sebut di lembar-lembar buku hariannya. Algian. Bagaimana rasa sakit hatinya, bagaimana rasa debarannya, bagaimana rasa bahagianya, semua tertulis di sana.

Namun hanya ada satu kalimat yang tertulis di halaman terakhir bukuhariannya per tanggal, 10 Februari, yaitu bertepatan dengan hari saat Algian pertama kali menerima telepon dari Yasmin. Tulisan yang tidak serapih dan seindah tulisannya biasanya di halaman-halaman sebelumnya, tulisan itu begitu singkat, terasa sedih, terburu-buru dan seperti ditulis dengan gemetar.

Bagaimana caranya agar aku bisa ada di dalam kenanganmu, Al?

Air mata laki-laki itu menetes, bagaimana bisa selama ini ada seorang gadis yang begitu mencintainya sedangkan ia tidak tahu.

**selesai

**ilustrasi : Loui Jover – Astral

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s