“Sudah dihujani jutaan bait puisi cintamu tak juga berpaling padaku, Nona.” Laki-laki itu dengan suara paling patah hati sedunia. Bahkan di tanggalan yang ia sakralkan, hari kasih sayang katanya. Laki-laki bodoh yang mencintai perempuan dengan tumpukan kata-kata.
Perempuan itu tak sekilas pun menoleh, dia tak tergubris dengan kata-kata manis dari siapa pun, dia tak terhenyuh, tak akan, dengan puisi dari negeri mana pun, dia menulis puisi bukan menerima puisi, dan perempuan itu tidak mensakralkan tanggal apa pun. Dia muak dengan janji2 tentang senja yang disulam laki-laki itu lewat puisi, dia muak dan mual! Padahal jelas laki-laki itu salah mendefinisikan senja dan perempuan itu tambah muak. Dia benci puisi? Tidak, mungkin hanya sudah terlalu biasa, seperti yang kekasih2nya terdahulu membuatkannya untuknya.
Masihkah laki-laki itu menyakralkan tanggalan 14 februari?  Yang kata orang-orang adalah tanggalan hari kasih sayang, padahal jelas hari ini dia sempurna patah hati. Puisinya mati.

itaita

Cikarang,

ditulis 14 Febrari 2012,

hampir lupa disimpankan, mengendap di draft handphone :D

gambarnya