Di pinggir terotoar, gerobak pedagang sekoteng bercat merah-biru-hijau menepi di sana, di bawah pohon angsana. Sebuah bangku kayu panjang diduduki sepasang kekasih (sepertinya). Mangkok kecil di tangan mereka, sama, isinya, warna mangkoknya, dan bunyi denting sendok, sama.
Tapi tiba-tiba si laki-laki bertanya setengah berbisik, “bagaimana rasanya?”
Padahal aku yakin rasa sekoteng di masing-masingĀ itu pun sama. Sudah tahu pasti sama untuk apa ditanya lagi? Seperti itu, kadang cinta butuh basa-basi kah? Mungkin untuk menambah hangat dari mangkok sekoteng itu, mengusir kata-kata yang kaku, melempar sepi ke ujung trotoar. Atau… Logika mereka sedang memang di atas normal saat berduan? Bingung memilih cara berbasa-basi. Lucu.

 

tadi malam

cikarang, 20 februari 2012

gambarnya