Di pinggir terotoar, gerobak pedagang sekoteng bercat merah-biru-hijau menepi di sana, di bawah pohon angsana. Sebuah bangku kayu panjang diduduki sepasang kekasih (sepertinya). Mangkok kecil di tangan mereka, sama, isinya, warna mangkoknya, dan bunyi denting sendok, sama.
Tapi tiba-tiba si laki-laki bertanya setengah berbisik, “bagaimana rasanya?”
Padahal aku yakin rasa sekoteng di masing-masingĀ itu pun sama. Sudah tahu pasti sama untuk apa ditanya lagi? Seperti itu, kadang cinta butuh basa-basi kah? Mungkin untuk menambah hangat dari mangkok sekoteng itu, mengusir kata-kata yang kaku, melempar sepi ke ujung trotoar. Atau… Logika mereka sedang memang di atas normal saat berduan? Bingung memilih cara berbasa-basi. Lucu.
tadi malam
cikarang, 20 februari 2012


ardiansyahpangodarwis
basa-basi mungkin perlu untuk menghangatkan suasana
itaita
ehehe… iya bener banget.
seperti kadang sepasang kekasih sering lupa basa-basi yang sebenarnya sangat perlu untuk menghangatkan suasana seperti “aku kangen kamu” atau “apakah kau masih mencintaiku” dan sebagainya. kadang basa-basi memang perlu.
kabutpikir
hmmm… meski semua orang diberi porsi cinta yang sama oleh yang maha kuasa, tapi tiap orang memaknainya berbeda.
itu juga yang terjadi pada sekoteng, meski dari panci yang sama. namun beda cara menikmatinya…
itaita
yes, bener banget. cara menikmatinya mungkin berbeda walau porsi, mangkok, mungkin cara pegang sendoknya pun sama. mungkin selera lalu rasanya juga jadi ikut berbeda. bukankah kepekaan lidah orang berbeda-beda bisa jadi jadi beda deskripsi rasa juga ya?
misalnya si cewek gak suka pake susu jadi pure air jahe dan yang cowok tetap pakai campuran susu,
kabutpikir
disitu manisnya cinta… kita belajar untuk memerhatikan apa yang disuka dan tidak disukai oleh pasangan….
itaita
setuju! bukankah mmg selalu begitu cinta selalu ingin tau, selalu belajar untuk lebih mengerti