gambar ini

aku ingin memberitahumu kalau rel kereta tidak patah hati. aku bisa mengajakmu membuat mereka disatukan. melepaskan mitos kalau rel selamanya hanya bersisihan tak bisa menyatu. kau mau tahu bagaimana caranya? seperti itu. kita jalan bersisihan di sepasang rel kereta, mengaitkan tangan, menyatukan jarak yang tak terlalu lebar antara sisi-sisi rel itu sebenarnya. menyusuri sampai jauh berdua, dengan jemari terkait. mengikuti arah angin, mungkin ke utara atau sesekali berbelok ke timur laut. lalu langit akan memotret kita yang masih agak terhuyung-huyung menapaki rel yang bahkan tak lebih lebar dari telapak kaki kita, yang saling menguatkan agar tak ada yang terjatuh atau keluar lintasan besi-besi yang entah di mana ujungnya, yang masih saling mengaitkan jemari. langit memotret kita, abadi. tentang rel yang tidak lagi patah hati, kerena mereka sudah disatukan, terkait, terkait jemari kita yang berpelukan sejak pagi hingga pagi lagi.

Kalau aku bosan karena kadang rel dari besi itu tampak rapuh saat kita jejaki, kau akan menemaniku berhenti dulu, duduk di sisi rel, melempar-lempar senyum, masih mengaitkan jemari, dan bercerita tentang apa pun membuang sepi dan melupakan bosan. sama-sama.
kalau kau letih karena jarak yang tak kita tahu di mana ujungnya, aku akan menemanimu berhenti dulu, duduk di sisi rel, mengaitkan kelingking dan berdoa semoga…
“Tak ada yang saling pergi sendirian setelah ini.”
“Tak ada yang meninggalkan atau ditinggalkan setelah ini, kecuali undangan kepergian dari Tuhan.”

langit masih memotret kita, abadi.

gambar ini

hei, kapan ya kamu ajak aku liat rel kereta, jalan bersisian di dua sisinya, atau ajak aku naik kereta ke stasiun kejutan?   :D

17 Februari 2012;

10.25;