“Tapi aku yakin kau akan datang, pasti datang kan?”
“Jangan terlalu yakin, silahkan cari hal lain yang bisa pasti kau tunggu, selain aku.”
Kau tahu aku menangis tanpa suara, menelan sendiri air mataku, saat itu. Perih kata-katamu, aku tahu itu harusnya terdengar seperti kau membebaskan aku. Tapi entah aku memerih mendengarnya. Kau tahu? Tolong tak usah katakan itu… katakan saja ‘tunggu aku sebentar lagi’ meski kata itu terkesan absurd ‘sebentar lagi’ tapi tak apa setidaknya kau biarkan angin membawa-bawa harapan itu selama masih bisa berhembus.
“Aku tahu kau tak sungguh-sungguh ucapkan itu, kau ucapkan itu tanpa memandangku. aku tahu kau tak sungguh-sungguh memintaku menunggu yang lain. Sudah kubilang aku yakin kau pasti datang! Kau mencintaiku.”
“Terserah.”
“Aku yakin, meski belum ada tanggal yang digenggam awan, kita belum menyulam satu tanggalan pun dari kalender di dinding. Tapi aku percaya, kau tak sejahat itu membiarkanku mati sambil menunggu. Kau pasti datang, sebelum waktu habis. Katakan ‘ya’? Aku mohon…”
Kau cuma diam, suara hembus napasmu terdengar makin jauh dari telingaku. Entah, apa yang memisahkan kita selain jarak.
Tapi aku masih yakin ada satu tanggalan yang akan menggenapkan kenangan nanti. Kau ke sini.  Terserah kau menertawaiku seperti apa pun. Kau ke sini.

Sebelum kau benar-benar katakan ‘berhentilah menungguku’.  Masih… Aku menunggu… Kamu…

 

itaita

16 Februari 2012;

11.44;

gambarnya