Lagi-lagi malam minggu masih belum berjadwal di sini. Tak apa aku tahu suatu hari nanti kita punya malam berdua, mungkin bukan sabtu, mungkin malah minggu atau senin, terserah saja, yang penting denganmu. Atau mungkin bukan malam tapi pagi, sore, yang panjang. Suatu hari nanti. Saat semua warna menjelas tidak abu-abu lagi. Buat apa memanjangkan malam seperti kata orang-orang, malam minggu malam yang panjang. Malamku selalu panjang tiap memikirkanmu. Sungguh, aku sedang tidak merayu. Hei, jangan tertawa! Toh, aku menulis ini pun diam-diam sekedar titip cerita pada angin. Tak juga berharap kau terbawa hembusan dan ke sini, membacaku. Tak usahlah… Aku bahagia sudah. Sudah itu saja. Cukup kau tahu aku mencintaimu. Cukup aku tau kau pun mencintaiku.
“jadi malam ini masih ada ragu?”
“tentu saja tidak, sayang…”
“kita tunggu tanggal itu menjelma.”
“ya, kau akan di hadapanku membawa sekotak senyum, seikat kenangan, dan melingkarkan cinta di sini, di hati kita.”
“tapi masih harus menunggu jadwal keretanya. Masih lama.”
“tidak bisakah naik helikopter saja, atau kapal pesiar.”
“jadi tidak mau menunggu?”
“tidak apa-apa. Asal akhirnya kau tiba di sini. Menunggu? Seperti katamu, itu pekerjaan perempuan kan?”
“ahaha… aku tak memaksamu untuk menunggu.”
“ya aku tahu. Kalau begitu biarkan saja aku menunggu. Tapi kalau batal datang selamanya, tolong beritahu aku. Agar aku tidak mati sambil menunggu.”
Malam Minggu, di kamar, 11 Februari 2012


titipan celoteh