Aku tak tahu harus percaya pada siapa lagi, angin selalu ribut dengan ceritanya sendiri, hujan memang tak pernah setia menunggu sampai pelangi memunculkan semua warnanya lalu berhenti membasahi bumi. Musim hujan sudah hampir habis sayang, ya ya kau pasti tahu tanpa harus aku ingatkan. Ada kalender terpasang di dinding kamarmu kan, pasti? Lalu kau pernah perhatikan tiap angka di sana? Perhatikanlah!  Dua menit saja! Temukan ada apa di sana, banyak cerita menunggu dibuatkan kenangan atau kenangan yang hampir kau lupakan. Seperti hujan yang melupakan pelangi yang pernah mencintainya dulu. Diam-diam. Eh, hujan memang tidak tahu, sampai sekarang? Wah langit kejam sekali tak mau beri tahu hujan kalau pelangi pernah mencintainya ya? Atau hujan memang tuli tak mau dengar cerita dari siapa-siapa. Tapi mungkin memang begitu harusnya, tak perlu ada yang memberitahu, tak perlu ada yang diberitahu, cukup jadi cerita–yang tidak selesai–saja.
Lalu kata-kata kukambinghitamkan hari ini, aku terjebak dalam tumpukan kata absurd tak punya makna. Aku kesal karena di kamus mana pun tak ada pendefinisiannya, pendefinisian yang seperti aku mau. Kata-kata pun bisa berbohong, kau percayakah? Tidak, kata-kata tidak berbohong sayang, dia mengikuti hanya seringnya terlupakan. Lalu cerita akan menyalahkan kata-kata yang terlupakan. Begitu seterusnya sampai kiamat berapa hari lagi itu. Hm, mungkin sudah kiamat sebenarnya. Kiamat kata-kata. Saat kata-kata mencelos dari genggaman, lewat celah-celah jari yang merenggang. Kata-kata tidak pernah bohong, tapi dilupakan, atau memang sengaja dibuat tanpa diselipkan arti. Kata-kata disalahkan padahal dia tidak tahu-menahu, hanya pasrah dituliskan atau diucapkan, lalu cerita dan orang-orang selipkan harapan yang sebenarnya terlalu absurd dan tidak usah ada.
Kalau tidak pernah berharap kau takkan pernah kehilangan, seperti itu yang ingin kata-kata bilang padamu.

*bukan untuk siapa-siapa ini untuk kata-kata dan aku.

itaita

Jakarta, Februari 2011

gambarnya