Untuk mereka mungkin hujan adalah perbatasan antara bahagia dan menggigil. Dalam genggaman tangan kecil yang kedinginan, ujung payung dipegang gemetar, hujan tak mau menoleh prihatin, terus menderas. Untuk mereka mungkin hujan seperti harapan yang dingin. Bibir gemetar yang agak membiru terus bergumam selipkan doa ‘hujan jangan berhenti’, tapi kalau bisa aku mintakan malaikat turunkan hujan yang hangat untuk mereka, hujan yang hangat saja… Payung masih menguncup, kaki kecil itu lari mengejar hujan, di bawah hujan berharap untuk berapa lembar seribuan. Mungkin payung yang dia genggam lebih berat dari badan mungilnya. Untuk mereka mungkin hujan perbatasan antara berkah dan kedinginan. Hujan jangan berhenti… Hujan yang hangat saja…
Ditulis ::
Sekitar jam 8, di Cibitung (P 9 BC), 3 Februari 2012.
Untuk anak kecil ojek payung di Jati Bening–anak perempuan kecil berbaju hijau tadi.
“Siapa namamu? Eh, kita lupa berkenalan tadi ya, Nona kecil.”
Selamat malam,
hujan nanti akan hangat,
percayalah…
20:17


kabutpikir
oooh, sweet…
dari dulu aku selalu merasa bahwa hujan itu indah. namun justru buat sebagian orang hujan tak hanya indah.. tapi juga berkah…
itaita
Iya betul banget hujan itu gak cuma indah tapi berkah. kalau musim hujan buah2an juga jadi macem2 kan, rambutan, jambu, manggis. ehehe…
thx udah mampir
semilir
ahh., jadi laper.,
kabutpikir
segeeer….
itaita
ayolah ujan2an rame2 biar tambah seger. sekalian kerja sambilan ngojek payung. ehh sambil makan buah2an juga biar gak laper. ehehe…
semilir
hahahh., enakan hujan2 makannn ajahh.,
ngurangin rasa dingin ., biar perutt hangat…
itaita
setauku kalo makan perut kenyang bukan hangat. kalo mau perut hangat coba peluk microwave. ehehe…
semilir
meledak lah ., donk ., donk ., donk.,