Seorang laki-laki dengan kemeja yang warnanya hampir sama dengan dahan akasia. Sore, di halte beratap warna kelabu. Sudah 17.30 harusnya gadis itu sudah datang, duduk di bangku halte menatap ke arah kiri, menunggu bus hijau muda menepi dan, hilang dibawa arah. Seperti itulah tiap sore laki-laki itu menunggu lalu selesai tanpa sepotong kata apa pun. Tapi hari ini…
Langit agak mendung, musim hujan, mungkin sebentar lagi gerimis pertama Februari tiba, mungkin bersama bus hijau muda itu.
Perempuan itu duduk dan menunggu, tanpa hiraukan ada yang sudah menunggunya juga sejak 300 menit yang lalu.
Tangannya menengadah mengecek apa gerimis mau menyentuhnya atau tidak. Sebelum gerimis menyentuh telapak tangannya, ada yang menyentuh pundaknya, laki-laki berkemeja sewarna dahan akasia. Sudah 300 menit dia berdiri, menunggu di bawah akasia yang rimbun hijau tua.
“ya?” wanita itu menoleh.
“sudah empat belas hari aku memperhatikanmu diam-diam di bawah akasia itu”
Dan perempuan itu hanya mengernyit, mencari kata-kata lain dari bola mata si laki-laki berkemeja sewarna dahan akasia.
“maksudmu?”
Dan malam menahan gerimis turun. Daun akasia menari riang mengikuti gesekan nada-nada merdu dari angin. Mungkin Februari sedang menyiapkan satu album kenangan untuk mereka… Entahlah… Ini baru pertemuan, mungkin perpisahan sedang menunggu di satu halte lainnya, di bawah akasia yang satu lagi. Semoga albumnya warna merah jambu.

*ditulis terburu-buru, beberapa saat setelah mata tak mau pindah dari pemandangan dua orang yang berkenalan di halte.

itaita

1 Februari 2012; 18:41. Jakarta.

gambarnya