Beberapa potong foto merengek ingin diceritakan dan beberapa kata-kata yang berantakan tetap memaksa untuk menceritakan tentang, aku, mereka, dan kita.
foto 1–simpan senyuman kita di sini
Setelah bertemu mereka aku merasa terlalu cepat untuk mengeluh dan protes pada takdir. Mendikte keadaan, mengingat yang buruk-buruk saja–yang pernah dilalui bersama waktu–lalu pura-pura tak ingat dengan hal-hal menyenangkan yang pernah waktu suguhkan.
Lihat mereka, nyaris mirip malaikat yang sepasang sayapnya sudah hilang, mungkin ada dari mereka pun tak pernah merasakan punya sayap, tapi senyum di sekitar mata dan bibir mereka masih melebar. Entah dalam hati mereka seperti apa bentuknya, tak karuan mungkin. Setidaknya hari itu, mereka tampak ceria saat menyambut kami dengan dengan raut warna-warni. Mereka tetap menikmati menjadi malaikat kecil tanpa sayap, kelihatannya.
Foto 3—Ibu pantinya yang kerudung merah, mukanya gak keliatan! *penonton kecewa*
Tidak, sayap mereka warnanya lebih cerah dan kuat sekarang. Kasih sayang Ibu Panti dan teman-temannya.
Foto 5—si peci hitam katanya mirip obama waktu kecil. Oh ya?
Yang baju hitam namanya Angga yang selalu senyum pasta gigi tiap beberapa detik sekali.
Dan katanya dia bahagia di sini.
Foto 6—Si kerudung Hijau, baru bangun tidur nih masih ‘kucek kucek mata hai’.
Foto 7—Si kembar Ridha dan Ridho. Yang satu cool yang satu pecicilan. ^_^
Mencuil beberapa hal dari sahabat-sahabat kecil ini. Kesabaran, ketulusan, cinta, bersama, sampai kehilangan, bahkan kehilangan yang jauh lebih tidak terdefinisi dari yang pernah aku rasakan. Saat itulah terasa Allah sangat menyayangi semua ciptaannya, Ia tahu kadar cinta yang dibutuhkan setiap orang. Ia tahu batasan sanggup dan tidak sanggup yang terbalut dalam hati setiap orang. Ia tahu kapan kita benar-benar membutuhkan uluran cinta-Nya, kapan kita hanya merengek mengeluh tanpa belum berusaha apa-apa, kapan Ia perlu memeluk kita atau hanya menyentuh lembut punggung telapak tangan kita. Ia tahu semuanya. Bahkan rasa-rasa yang selalu berusaha kita sembunyikan, doa-doa yang hanya diucapkan sambil berbisik–agar tak ada yang tahu. Ya, Allah selalu tahu. Apa pun. Bahkan yang kita tidak (belum) tahu.
Rasanya berat saat jarum jam sudah makin bergeser ke malam, mereka sudah harus istirahat. Padahal kantong kenangan masih ingin diisi tawa bersama mereka saat itu. Sore makin menuju malam. Dan aku juga teman yang lain pamit. Pamit, untuk mungkin kapan-kapan akan datang lagi ke sini. Semoga.
Foto 8—tentang bahagia di halaman depan
Tapi nyatanya tidak aku saja yang merasa waktu terlalu cepat sore saat itu. Mereka juga. Mereka masih belum rela berpisah, masih ingin buat beberapa kotak kenangan lagi dan cerita-cerita yang dibagi sambil sesekali menyeka air mata atau tertawa keras-keras. Mereka melambaikan tangan sambil berteriak-teriak yang nyaris tidak terlalu jelas suaranya dari jendela kaca mereka di lantai dua, yang langsung menghubungkan ke halaman depan tempat motor-motor terparkir.
“Kakak! Kakak! Ayo nginep aja!”
“Kakak! Selamat Tahun Baru ya…!”
“Kakak! makasih ya udah dateng ke sini!”
“Kakak! Nanti datang lagi ya!”
“Daddahh Kakak… Daddaah…!!”
Teriakan ceria itu sudah terekam dengan baik, dan membuat setumpuk rindu spesial. Terdengar suara terompet ditiup tanpa nada keras-keras. Lambaian tangan dan senyum-senyum hangat terlempar dari balik jendela. Belum ada kembang api saat itu, tapi mereka lebih meriah dan menarik dari ribuan warna kembang api. Hari itu sangat-sangat-sangat menyenangkan. Percaya tidak? Harus percaya! Aku, mereka, kita bahagia kan?
tentang waktu
kehilangan
memiliki
kebahagian
senyum semu dan nyata
tentang rasa
berbagi
memeluk
tertawa sampai menangis
dan tentu saja tentang harapan
doa
kenangan
perasaan
dan rasa terima kasih
tentang kita, dan cinta-cinta
*Separuh Hari Sebelum Januari
Udah lama banget pengen upload ini, tapi gak sempet2. Sampe rasanya fotonya pada demo minta cepet2 diceritain. ehehe… Buat penyemangat kalau lagi ngedown. Let’s smile everybody…!!





kreatif..
Makasih
makasih udah mampir