surat (terakhir) untukmu

pernah tidak merasa jauh sekali dengan sesuatu,
padahal kita berada di jarak tidak lebih dari lima meter?
pernah tidak merasa ada dinding penyekat besar
antara diri ini dengan sesuatu,
padahal berada dalam satu ruangan tanpa sekat
dan satu atap?

Biarkan aku masih menulis tentangmu, sedikit saja… biarkan ya…

Aku memang sudah berniat tidak lagi menyelipakanmu dalam tulisan-tulisanku lagi.  Rasa sakit itu terus-terusan mengingatkanku, aku tak perlu menulis apa apa lagi tentangmu. Tapi  tak apa kalau hanya sedikit kan?  Toh, kau pun takkan pernah tau, takkan pernah sadar ‘ini’ untukmu, aku menulis tentang kita, kau takkan pernah tertarik untuk sedetik saja meliriknya apa lagi membacanya kan? Dan apalagi untuk mengerti maksud tiap kata-kataku, ya aku tau, kau takkan mengerti atau mencoba mengertinya. Sudahlah… anggap saja aku menulis untukku sendiri.

Saat itu kita berada di lantai yang sama, sejajar. Hanya ada sebuah dinding yang tak terlalu besar dan kurasa belum bisa disebut ‘penghalang’. Tapi nyatanya dinding itu terlalu besar untukku saat itu (entah bagaimana untukmu). Membuat aku tak bisa melihatmu dan kau juga tak bisa (mau) melihatku. Rasa-rasanya kau tak peduli padaku saat itu, ah yang benar adalah memang tidak pernah peduli kan? Tapi aku masih saja peduli, mungkin kalau pun dindingnya membesar, makin besar dan kita tetap sama-sama tidak dapat saling melihat tapi rasaku tetap belum bisa terhalang sampai sekarang (entah bagaimana dengan besok, semoga saja…) hari rabu siang itu, kau ingat? Ah, sudahlah kau tak punya ruang lagi untuk sedetikpun saja ingat padaku. Harusnya aku tak lagi membahasmu, percuma kau takkan tau isi tulisan ku yang ini ini saja, tentang mu tentang mu saja.

Pernah sekali angin cerita padaku, kalau kau sedang patah hati. Eh… kau bisa merasakan rasa patah itu juga? Kalau iya, kau pasti tau juga bagaimana rasanya kan? Perih, nyeri dan tak hilang-hilang sampai lama, iya kan? Tapi mengapa kau mengenalkan kata patah itu padaku? Seandainya ku tanya padamu apa jawabanmu adalah ‘tidak sengaja’? Banyak pertanyaanku yang masih menitik bersama titik-titik gerimis yang turun malam ini, dan langit yang gelap itu masih saja diam tak mau membantu barang secuil menjawabnya. Tapi sukurlah aku mengenalmu, dekat denganmu, walau hanya sekejap, ya aku bisa merangkai jutaan kata dengan lancar sambil membayangkanmu dari yang banyak cerita senyum sampai cerita menangis bersama mendung. Oh ya, kertas kusut kenangan-kenangan darimu sudah ku buang ke tempat sampah di kamarku lalu dibuang ke tempat sampah lebih besar di depan rumah dan dibawa si pemulung entah ke mana mungkin ke tempat pembuangan akhir atau malah didaur ulang (semoga di daur ulang dan menjadi kertas kenangan lebih manis untuk yang lain), eh bahkan mungkin kau sudah lupa pernah memberi kenang-kenangan itu padaku? Atau jika ku tanya mungkin jawabanmu pun akan bilang ‘tidak sengaja memberinya padaku’. Sudahlah ya, mungkin ini saatnya aku menyudahi cerita tentangmu, menganggapmu hanya hujan yang numpang lewat dan tidak berakhir dengan pelangi warna-warni.

Hm ya, harusnya tulisan ini ku buat saat hari pertama waktu memaksaku menyatakan ‘putus’ untuk rasa padamu, tapi saat itu justru aku tak ingin menulis apa-apa aku masih terlalu tersentak dengan kejutan hari itu. Dan hari ini saat perasaanku sedikit melega, aku mulai ingin menulis lagi, mungkin ini akan jadi surat terakhirku untukmu. Awalnya aku susah payah mengikismu sampai hilang, tapi jumat kemarin di kendaraan umum aku duduk sebelahan dengan anak kecil seusia delapan tahunan dan kau tau, wajahnya mirip sekali denganmu. Entah apa karena bayanganmu masih setengah memudar dalam pikiran makanya melihat anak kecil itu aku jadi ingat lagi padamu, entah ya… yang ku tahu karena itu aku jadi ingin menulis surat terakhir ini untukmu (terlepas kau akan membacanya atau tidak).

Biarkan aku mengurung (nama) mu dalam peti kenanganku, ah semakin sesak saja isi peti itu ya. Tolong jangan muncul lagi dulu, jangan… sebelum rasa dan luka ini mengering sama-sama. Aku takut kalau belum kering dan kau datang lagi masih dengan bau-bauan yang sama, akan ada bentuk rasa yang lain atau mungkin yang lama akan ranum lagi. Sudah ya, semoga kau bisa bersamanya suatu waktu nanti, bahagia, aku mendoakan suatu saat nanti dia (gadis itu) akan sadar kalau kau begitu mencintainya, sampai membuat rasaku yang tak bersalah ini beberapakali patah karena caramu mencintainya. Dan semoga cerita cintamu untuknya akan berakhir seperti cerita Cinderella dan pangerannya.

Benar kata pepatah lama yang bilang, “tidak ada manusia yang sempurna.”

Begitu juga dengan perasaan, perasaan juga tidak sempurna.

Kau tau mengapa, kalau rasa itu sempurna ‘rasa’ itu tak kan jatuh pada namamu.

Selamat malam, mantan cinta. ^_^

11 Juni 2011, jam sepuluh malam lewat dua menit.

yang sebelumnya : berhenti merindu, mungkin akhirnya

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s